Sudahlah, Hajar Saja Mereka Sekarang!

Sudahlah, Hajar Saja Mereka!

Oleh Dr. Tri Budhi Sastrio *) – 03 February 2012

Meskipun sandera kapal Sinar Kudus milik PT Samudera Indoensia telah berhasil dibebaskan dengan membayar uang tebusan, tetapi karena masih ada kapal lain yang anak buahnya masih disandera, dan mungkin masih aka nada banyak lagi kapal Indonesia yang akan mengalami hal serupa, maka artikel yang ditulis pada saat anak buah kapal Sinar Kudus belum dibebaskan mungkin pantas untuk dibaca oleh semua pihak, termasuk insan akademis.

Berita yang pernah dilansir Kompas berkaitan dengan disanderanya pelaut Indonesia tampak seperti berikut: Pemerintah memilih bernegosiasi dan membayar uang tebusan guna membebaskan 20 warga negara Indonesia kru Kapal MV Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia. Cara ini dianggap paling aman demi keselamatan kru dan kapal yang masih dikuasai perompak. Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menyampaikan hal itu di sela-sela kunjungan ke Kompleks Korban Perang Timor Timur di Kota Bekasi, Kamis (14/4). ”Sekarang tinggal pada mekanisme penyerahan uang tebusan,” katanya.

Panglima TNI menyatakan, negosiasi dan pembayaran tebusan juga disarankan Slamet Jauhari, nakhoda Kapal Sinar Kudus milik PT Samudera Indonesia.

Wah, apa-apaan ini! Sebuah negara yang berdaulat dengan kekuatan tempur angkatan laut yang diakui sangat hebat dan ribuan anggota marinir terlatih tiba-tiba saja menyerah dan keok begitu saja ketika berhadapan dengan bajak laut? Benar-benar tidak masuk akal. Lebih tidak masuk akal lagi adalah begitu lambannya negara yang sejak jaman kerajaan Majapahit dahulu disegani angkatan lautnya ini mengambil keputusan. Sangat lamban, sangat tidak tegas, sangat tidak terbuka … dan maaf … sangat tidak mempunyai martabat dan harga diri. Setelah puluhan hari bungkam seribu bahasa … eh ketika tiba gilirannya berbicara karena dipaksa … yang keluar bukannya permintaan maaf dan segudang rencana heroik berbingkaikan martabat dan harga diri sebuah negara kepulauan terbesar di dunia untuk menyelamatkan warganya yang telah diperlakukan tidak adil oleh para perompak yang hina dina itu, tetapi yang ke luar justru adalah pernyataan menyerah, pernyataan keok sebelum bertanding, pernyataan yang amat sangat memalukan bagi sebuah negara berdaulat.

Ini NKRI, bung! Ini negara dengan lambang burung garuda yang perkasa, bukan burung emprit, bukan burung gereja. Kalau sang panglima tni (… ini sengaja ditulis dengan huruf kecil, karena terus terang saja saya sedang jengkel …) tidak mampu mengepakkan sayapnya membelah angkasa sebagaimana layaknya seekor burung garuda yang perkasa, tetapi lebih memilih menjadi burung emprit yang mencari aman dengan bersarang di pohon-pohon berdaun rimbun, saran saya mundur saja jenderal. Bagaimana anak-anak muda, pelaut-pelaut muda negara ini dapat menengadahkan kepala dan membusungkan dada kalau Anda sang panglima bersikap dan bersuara seperti ini? Menyerah setelah lama membungkam dan bersembunyi di balik kamar-kamar mewah ber-AC Anda?

Mahapatih Gadjah Mada pasti berlinang-linang matanya tanda sedih tak terkira. Laksamana Nala pasti mengelus-elus dada tanda berduka. Bahkan sang Dewa Ruci yang patungnya dengan perkasa bertengger di halauan Kapal Latih KRI Dewaruci, tempat para kadet muda ditempa dan digembleng agar menjadi pelaut perkasa pengawal nusantara, mungkin akan protes keras dan minta agar dirinya tak lagi di pasang di sana? Bagaimana aku masih ada muka menghadapi para tamtama, bintara, dan perwira muda, jika pimpinan tertinggi negara ini diam saja tak bersuara membiarkan martabat dan harga diri bangsa diinjak-injak oleh para perompak samudera? Duh jagat dewa batara … begitu mungkin engkau mengeluh berulang-ulang wahai sang dewa …

Mengapa Mereka Tidak Dihajar Saja?

Lemah lembutnya sang menko, sang menlu, sang presiden, menjadi semakin menjengkelkan ketika pada berita yang sama, Kompas juga menulis betapa di jajaran yang lebih bawah sebenarnya para manggala terlatih negara berdaulat warisan  Mahapatih Gajahmada dan Laksamana Nala ini siap untuk bertindak, siap untuk menjaga kedaulatan negara, siap untuk menjadi ujung tombak bhayangkara pembela martabat dan harga diri bangsa.

Tidak kurang dari Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat Brigadir Jenderal Wiryantoro yang ditemui di Jakarta pada Kamis (14/4) – ini menurut Kompas –  menegaskan, pihaknya siap menindak perompak Somalia jika diperintahkan. ”Tentu saja kita selalu siap jika diminta berangkat oleh Presiden untuk menindak bajak laut Somalia,” kata Wiryantoro. Dia menambahkan, pihak Kopassus juga menyatakan siap 24 jam untuk sewaktu-waktu diminta menindak para bajak laut Somalia.

Coba bayangkan betapa memalukannya pimpinan negara berdaulat ini. Manakala para manggala yudha bersemangat dan bernyali bak garuda menyatakan siap menindak para perompak hina diri, eh … burung-burungemprit yang duduk-duduk di ruangan mewah ber-AC itu bukan saja mengeluarkan bendera putih setengah tiang tanda menyerah sebelum berperang, tetapi juga dengan bangganya menyatakan bahwa ’perang’ hanyalah opsi yang tak pantas digadang-gadang!

Kemana perginya itu semangat juang pantang dihina, lebih baik berputih tulang daripada martabat dan harga diri hilang? Kemana perginya itu warisan para pejuang yang demi tegaknya kedaulatan negara ini lebih memilih tanah berkalang, daripada duduk diam berpangku tangan? Duh Gadjah Mada …duh Nala … maafkanlah para komandan manggala-manggala negara yang memalukan ini …

Tetapi harapan masih selalu ada … belum ada kata terlambat untuk meneriakkan dengan lantang pekik tanda perang mempertahankan harga diri dan martabat bangsa … sudahlah, hajar saja mereka sekarang … kemudian kopassus, marinir, dan bahkan juga densus 88 diterjunkan ke somalia, mendarat di kapal-kapal milik NKRI atau kapal-kapal yang anak buahnya WNI dan … mustahil mereka para manggala yudha nusantara yang sangat terlatih membela bangsa dan negara ini tak mampu melumpuhkan perompak hina, tak mampu menyelamatkan anak bangsa …

Yang jadi masalah sekarang, masihkah peluang ini dipahami oleh sang emprit dan segera berubah menjadi sang garuda? Kita tunggu saja … dan sambil menunggu mari diteriakkan bersama-sama … SUDAHLAH, HAJAR SAJA MEREKA SEKARANG!


*) Dr. Tri Budhi Sastrio
Rektor UKSPJ
ukspj@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s