Pernyataan YSBI TENTANG PEMBAKARAN “BUKU-BUKU” KOMUNIS”

Dengan keprihatinan mendalam Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia
(YSBI) membaca surat pemberitaan, sekaligus seruan ajakan membuat
jawaban bersama, terhadap isu pembakaran "buku-buku komunis".

Membakar buku, buku-buku komunis atau bukan-komunis, ialah membakar
pikiran dan perasaan Manusia - membakar Budaya Manusia. Budaya ialah
mata air sekaligus reservoar Sejarah Manusia.

Maka gerakan pembakaran buku, buku-buku komunis atau bukan-komunis,
sama dengan gerakan pembakaran Budaya dan Sejarah Manusia - pembakaran
terhadap Manusia itu sendiri! Suatu perbuatan yang hanya dilakukan
oleh akal-tak-sehat kaum fasis dan totaliteris.

Jika itu terjadi di Indonesia sekarang, pertanda bahwa rezim "Orde
Baru", bukan hanya belum lenyap bersama lengsernya Suharto, sebaliknya
justru sedang menjadi kalap. Maka, itulah pertanda seruan bagi
Indonesia yang berakal sehat untuk konsekuen dan tuntas melaksanakan
Reformasi Total.

Sekali lagi: Reformasi Total!

Amsterdam, 5 Mei 2001

Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia
Sumber: http://www.minihub.org/siarlist/msg04950.html

PERNYATAAN SIKAP ATAS PEMBAKARAN BUKU,INTIMIDASI, ANCAMAN SERTA RENCANA SWEEPING BUKU

ALIANSI UNTUK KEMERDEKAAN BERPIKIR DAN BERSUARA
Sekretariat: Jl. Utan Kayu No. 68 H
Jakarta 13120 Tel. 021-8573388 Fax. 8567611

Satu dari sedikit yang masih dapat kita banggakan dari Reformasi yang
diperjuangkan dengan harga yang amat mahal dan mengorbankan ribuan
nyawa itu, adalah bahwa kita kini memiliki demokrasi.

Kebebasan pers, kebebasan berekspresi dan kebebasan berkreasi adalah
pilar-pilar yang menunjang terwujudnya demokrasi. Dengan demokrasi
yang semakin dewasa, dengan usaha keras kita terus-menerus
mengkonsolidasikan proses demokrasi, kita berhadap satu saat kita
dapat mewujudkan masa depan yang cerah di negeri ini. Sebab tanpa
demokrasi bangsa ini akan terjebak pada kebekuan berfikir, mudah
diprovokasi dan dipecahbelah.

Jadi adalah sangat memprihatinkan apabiia dalam dua pekan belakangan
ini kita menyaksikan sekelompok orang, yang oleh kepentingan politik
kelompok atau golongannya bergerak menghalang-halangi proses demokrasi
yang sedang kita perjuangkan itu; Menghambat dengan kasar hak-hak
masyarakat memperoleh infarmasi dan pengetahuan secara bebas, dengan
membakari buku-buku yang mereka tuduh sebagai "BUKU KIRI"

Oleh karena itulah Aliansi untuk Kemerdekaan Berpikir dan Bersuara,
aliansi yang terdiri dari LSM, mahasiswa, penulis puisi, novelis,
penyair, jurnalis, dramawan, esais, sejarawan, pustakawan, penerbit
buku, toko buku, kritikus, penterjemah, editor, penulis naskah,
seniman dan lainnya, MENGUTUK DENGAN KERAS tindakan membakari
buku-buku serta tindakan mengintimidasi dan mengancam akan melakukan
sweeping (penyapuan) terhadap pemilik maupun toko-toko yang menjual
buku-buku seperti mereka tuduhkan.

Tindakan membakar buku, adalah tindakan bodoh/pembodohan dalam hal itu
jelas sekali bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945, yang
mengamanatkan kepada kita sebagai anak bangsa untuk ikut mencerdaskan
kehidupan bangsa dan bertentangan dengan Ajaran Agama, dimana membaca
merupakan sebuah kewajiban.

Di dalam ajaran Islam misalnya, ayat pertama yang diterima Nabi
Muhammad SAW adalah Iqra! Atau Bacalah! Jadi membakar buku-buku bacaan
adalah tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama maupun
konstitusi negara Republik Indonesia.

Sebagai anak bangsa Indonesia yang tercerahkan dan menginginkan bangsa
Indonesia maju setaraf dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini, kita
tak bisa mendiamkan tindakan pembakaran dan sweeping buku itu.
Tindakan tersebut adalah sewenang-wenang dan merupakan tindakan main
hakim sendiri yang tak bisa ditolerir.

Atas dasar pemikiran diatas dengan keprihatinan yang dalam kami
meminta:

1. Kepada Pemerintah dan DPR, untuk berbuat dengan sungguh-sungguh
demi menunjang usaha mencerdaskan kehidupan bangsa

2. Kepada Aparat Keamanan, untuk menindak tegas setiap pelaku
kekerasan dan 

3. Kepada mereka yang melakukan pembakaran dan sweeping buku, untuk
menghentikan setipa perbuatan yang menghambat usaha mencerdaskan
kehidupan bangsa

4. Kepada Penerbit, Penulis dan Penjual Buku, untuk menyikapi setiap
pelaku kekerasan, pembakaran dan sweeping buku dengan melawannya.
Dengan tidak takut menulis, tidak takut menerbitkan dan tidak takut
menjual buku-buku demi kemajuan bangsa.

5. Kepada Anak bangsa lainnya, mari bersama-sama menghimpun kekuatan
melawan orang-orang yang karena kepentingan pribadi dan kelompoknya,
menghambat bangsa Indonesia untuk maju dan bersaing dengan bangsa lain
di dunia.


Jakarta, 8 Mei 2001


ALIANSI UNTUK KEMERDEKAAN BERPIKIR DAN BERSUARA

 Sumber: http://www.minihub.org/siarlist/msg04955.html

Pembakaran Buku

Aliansi Anti-Komunis, kumpulan beberapa organisasi yang didukung
tentara
dan Partai Golkar, membakar buku yang ditulis Franz Magnis-Suseno,
guru
besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Magnis, dan
pengajar
Driyarkara lainnya, Dr. Mudji Sutrisno disebut sebagai penyebar
komunisme.Lalu, tersebar kabar Aliansi Anti-Komunis akan mengadakan
sweeping ke toko-toko buku mencari buku-buku
kiri-sosialis-marxis-komunis,
pada tanggal 20 Mei mendatang.

Kebebasan mencari dan memberikan informasi diancam, diciptakan suasana
ketakutan. Magnis menulis surat yang dikirim ke internet mengatakan,
"Saya
mensyukuri bahwa untuk sementara yang mereka bakar hanya buku, bukan
para
penulis buku."

Gerakan anti komunis belakangan ini, bagaimanapun bisa dibaca
merupakan
gerakan yang dimotori kelompok Orde Baru dan militer yang masih amat
kuat,
baik dari segi kekuatan fisik maupun kekuatan dana. Gerakan-gerakan
semacam
ini merupakan cara untuk mengalihkan tekanan terhadap pembubaran
Partai
Golkar, tuntutan pengadilan bagi koruptor-koruptor Orde Baru, dan
penyingkiran militer dari politik dan ekonomi. Sekaligus juga
mengancam
kelompok-kelompok yang gencar menuntut tiga hal tadi.

Salah satu orang Aliansi Anti-Komunis adalah Eurico Gutteres, mantan
komandan milisi Aitarak di Timor Timur. Gutteres adalah orang binaan
militer, bahkan sejak ia menjadi preman di Pasar Becora, Dili.
Orang-orang
bayaran dari kelompok ini adalah preman-preman, salah satunya dari
kelompok
preman Tanah Abang. Kelompok preman Tanah Abang ini merupakan preman
binaan
Kodam Jaya.

Banyak pihak yang kontra menanggapi aksi-aksi ini dengan argumentasi
ilmiah. Tampaknya, itu tidak diperlukan karena yang akan dihadapi
adalah
para preman binaan, yang tidak akan mampu secara intelektual diajak
bicara.
Sebab itulah mereka disewa.
Sumber: http://www.minihub.org/siarlist/msg04957.html